Rabu, 27 Juni 2012

Abraham samad

 


DR. Abraham Samad SH. MH
DR. Abraham Samad SH. MH
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ke-4
Petahana
Mulai menjabat
2011
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Didahului oleh M. Busyro Muqoddas
Informasi pribadi
Lahir 27 November 1966 (umur 45)
Bendera Indonesia Makassar, Sulawesi Selatan
Alma mater Universitas Hasanuddin
Profesi Advokat
Dr. Abraham Samad, S.H., M.H., (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 27 November 1966; umur 45 tahun) adalah seorang advokat yang sekarang menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2011-2015.

 Pendidikan

Abraham Samad meyelesaikan pendidikan Sarjana (Strata 1/S1), Magister (Strata2/S2), dan Doktoral (Strata 3/S3) di bidang hukum di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (FH Unhas), Makassar[1][2]. Gelar Doktor diraihnya pada tahun 2010[3]. Tesisnya mengambil tema tentang pemberantasan korupsi, yaitu mengupas penanganan kasus korupsi di pengadilan negeri dengan pengadilan khusus.[4]

Karier

Sejak tahun1996, Abraham Samad melakoni profesi sebagai advokat[3]. Kemudian, untuk menunjang profesi yang digelutinya, Abraham Samad medirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang diberi nama Anti Coruption Committee (ACC). LSM ini bergerak dalam kegiatan pemberantasan korupsi, seperti melakukan kegiatan pembongkaran kasus-kasus korupsi, khususnya di Sulawesi Selatan[1]. Selain itu ACC memiliki tujuan mendorong terciptanya sistem pemerintahan yang baik serta sistem pelayanan publik yang maksimal dengan sasaran pemberantasan korupsi. Abraham Samad duduk sebagai koordinator, selain ia adalah penggagas LSM tersebut.[3]

Seleksi Calon Pimpinan KPK

Abraham Samad sebelumnya pernah mendaftar sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD)[4] dan Komisi Yudisial[1]. Namun, semua gagal hingga ia memutuskan untuk mengikuti seleksi calon pimpinan KPK. Seleksi capim KPK 2011 sebenarnya bukanlah hal baru bagi Abraham, karena ia sebelumnya sudah pernah mendaftar sebanyak dua kali. Pada ketiga kalinya inilah Abraham bisa melewati seleksi hingga tingkat akhir (uji kelayakan dan kepatutan oleh DPR). Abraham bersama 8 calon (sebelumnya 10 calon) diajukan oleh Pansel KPK yang diketuai oleh Menkumham Patrialis Akbar dimana Abraham menempati peringkat kelima dari seluruh calon yang diajukan[1]. Abraham merupakan calon pertama yang menjalai uji kelayakan dan kepatutan yang dimulai pada tanggal 21 November 2011[2].
Pada tanggal 3 Desember 2011 melalui voting pemilihan Ketua KPK oleh 56 orang dari unsur pimpinan dan anggota Komisi III asal sembilan fraksi DPR, Abraham mengalahkan Bambang Widjojanto dan Adnan Pandu Praja. Abraham memperoleh 43 suara, Busyro Muqoddas 5 suara, Bambang Widjojanto 4 suara, Zulkarnain 4 suara, sedangkan Adnan 1 suara [5]. Ia dan jajaran pimpinan KPK yang baru saja terpilih, resmi dilantik di Istana Negara oleh Presiden SBY pada tanggal 16 Desember 2011[6].

Dukungan

Abraham didukung oleh beberapa lembaga[7], diantaranya:
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Abraham_Samad

OPINI PUBLIK

Langsung ke: navigasi, cari
Opini publik adalah pendapat kelompok masyarakat atau sintesa dari pendapat dan diperoleh dari suatu diskusi sosial dari pihak-pihak yang memiliki kaitan kepentingan. Agregat dari sikap dan kepercayaan ini biasanya dianut oleh populasi orang dewasa.[rujukan?]
Dalam menentukan opini publik, yang dihitung bukanlah jumlah mayoritasnya (numerical majority) namun mayoritas yang efektif (effective majority).[rujukan?] Subyek opini publik adalah masalah baru yang kontroversial dimana unsur-unsur opini publik adalah: pernyataan yang kontroversial, mengenai suatu hal yang bertentangan, dan reaksi pertama/gagasan baru.[rujukan?]
Pendekatan prinsip terhadap kajian opini publik dapat dibagi menjadi 4 kategori:
  1. pengukuran kuantitatif terhadap distribusi opini[rujukan?]
  2. penelitian terhadap hubungan internal antara opini individu yang membentuk opini publik pada suatu permasalahan[rujukan?]
  3. deskripsi tentang atau analisis terhadap peran publik dari opini publik[rujukan?]
  4. kajian baik terhadap media komunikasi yang memunculkan gagasan yang menjadi dasar opini maupun terhadap penggunaan media oleh pelaku propaganda dan manipulasi.[rujukan?]
Menurut Dan Nimmo, opini personal terdiri atas kegiatan verbal dan non verbal yang menyajikan citra dan interpretasi individual tentang objek tertentu, biasanya dalam bentuk isu yang diperdebatkan orang.[1]
Opini dapat dinyatakan secara aktif maupun secara pasif.[rujukan?] Opini dapat dinyatakan secara verbal, terbuka dengan kata-kata yang dapat ditafsirkan secara jelas, ataupun melalui pilihan-pilihan kata yang sangat halus dan tidak secara langsung dapat diartikan (konotatif).[rujukan?] Opini dapat pula dinyatakan melalui perilaku, bahasa tubuh, raut muka, simbol-simbol tertulis, pakaian yang dikenakan, dan oleh tanda-tanda lain yang tak terbilang jumlahnya, melalui referensi, nilai-nilai, pandangan, sikap, dan kesetiaan.[2]
Opini publik itu identik dengan pengertian kebebasan, keterbukaan dalam mengungkapkan ide-ide, pendapat, keinginan, keluhan, kritik yang membangun, dan kebebasan di dalam penulisan.[rujukan?] Dengan kata lain, opini publik itu merupakan efek dari kebebasan dalam mengungkapkan ide-ide dan pendapat.[3]

Cara Mengetahui Adanya Opini Publik

Tahun 1965 sewaktu pembrontakan GESTAPU/PKI ada pertentangan antara PKI dan pendukung Pancasila yang kemudian menjadi Orde Baru. Pertentangan terjadi setelah mendengar bahwa ada pembunuhan terhadap para Jendral oleh PKI.[rujukan?] Pembrontakan PKI (GESTAPU/PKI) berlangsung dimana-mana, akan tetapi langsung dapat ditumpas.[rujukan?] Hal tersebut juga kita dengar dari surat kabar, radio, televisi dan film, rapat-rapat, pidato-pidato, di forum ceramah dan dimana saja.[rujukan?] Gejala tersebut disebut public opinion atau opini publik.[4]
Untuk memahami opini seseorang dan publik tidaklah mudah. Menurut R.P. Abelson, hal ini berkaitan dengan:
  1. Kepercayaan mengenai sesuatu (belief)[rujukan?]
  2. Apa yang sebenarnya dirasakan atau menjadi sikapnya (attitude)[rujukan?]
  3. Persepsi. Suatu pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi serta menafsirkan pesan dan persepsi merupakan pemberian makna pada stimuli inderawi
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Opini_publik

Bakal calon walikota

  tidak bicara banyak sih pak, intinya siapapun yang nantinya terpilih jadi walikota yahh tepati sajalah janji janjinya seperti apa yang dia katakan pada saat kampanye,dan pada slogan slogan di balighonya. Kan banyak tuh, bukan cuma satu calon, yang sudah terpilih jaadi walikota, mereka lupa sama janji jnanjinya saat kampanye, yahh mungkin yang terlaksana cuma 40-60% dari perencanaan dia bila menjadi walikota.

Siapa yang layak memilih ketua KPK






kalau menurut saya sih yang pantas memilih KPK itu yah sudah benar yang milih tuh DPR. Soalnya tugas mereka di gedung DPR adalah, mewakili suara rakyat, kita yang milih dia dan kiita percaya untuk menyuarakan suara kita sebagai rakyat biasa. Dan bila ada pertanyaan siapa yang pantas memilih ketua KPK yahh orang-orang yang ada di DPR. Andaikan kita (masyarakat) yang disuruh milih langsung ketua KPK, yahh mana paham soal hukum hukum tentang korupsi, kan banyak masyarakat yang belum ngerti tetntang hukum hukum korupsi. Andaikan masyarakat yang disuruh langsung milih siapa ketua KPK, nantinya juga akan terkena janji palsu,dan juga kampanya uang.

UNTUNG RUGI PKS, DEMOKRAT KELUAR KOALISI

Keluarnya Partai Keadilan Sejahtera(PKS) dari koalisi partai pendukung pemerintah dinilai justru akan menguntungkan Partai Demokrat. Dalam perjalanan nanti kontrak-kontrak politik yang disepakati tahun 2009 lalu akan lebih jelas.
"Menurut saya keuntungan bagi Demokrat, akan ada komitmen yang lebih jelas atas kontrak-kontrak politik yang disepakati 2009 lalu,tidak seperti sekarang " ujar Pengamat Politik UIN Syarif Hidayatullah, Gun-Gun Heryanto kepada Tribunnews.com, Senin(2/4/2012).
Gun-Gun mengatakan menguatnya trend balik badan para mitra koalisi karena ternyata berbeda secaa diametral sekalipun ternyata tidak ada sanksi dalam koalisi.
"Wajar jika muncul interpretasi, perbedaan policy antar mitra koalisi terkait dengan pemerintah SBY menjadi mungkin dan sah-sah saja. Nah, dengan adanya ketegasan komitmen, Demokrat dan juga SBY akan memperjelas konsep koalisi dengan para mitra," pungkasnya.

Sumber: TribunNews

KENAIKAN BBM

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai, pembahasan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, dipolitisasi. Segala sesuatunya, kata Yudhoyono, dikait-kaitkan dengan kepentingan politik, kepentingan Pemilihan Umum (Pemilu) 2014.
Hal tersebut diungkapkan Yudhoyono dalam jumpa pers seusai memimpit rapat kabinet di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/3/2012). Kondisi yang demikian, lanjut Yudhoyono, membuat pembahasan dan pemikiran terkait opsi ini, berjalan kurang objektif dan rasional. Padahal, menurutnya, pemeirintah mengajukan opsi kenaikan harga BBM semata-mata untuk menyelamatkan perekonomian nasional.
"Salah satunya yang perlu pemerintah lakukan adalah untuk bersama-sama DPR melakukan perubahan APBN 2012. Mengapa? Karena banyak hal yang sudah tidak sesuai lagi, misalnya harga minyak mentah, nilai tukar rupiah, takaran pertumbuhan, dan angka inflasi," ujar Yudhoyono.
Penyesuaian harga BBM bersubsidi, menurutnya, perlu dilakukan untuk mengatasi perubahan-perubahan tersebut. "Dan kalau tidak diubah, maka yang terjadi adalah sasaran yang telah kita tetapkan tidak dapat kita capai. Bisa terjadi defisit yang besar, melebihi ketentuan yang diharuskan undang-undang," ujar Yudhoyono.
Lagipula, bukan kali ini saja pemerintah menaikan haga BBM. Berdasarkan catatan sejak Indonesia merdeka, kata Presiden, pemerintah 38 kali menaikkan hharga BBM. "Di era reformasi, tujuh kali, termasuk di saat Presiden Gus Dur dan Megawati," katanya.
Di era pemerintahannya sendiri, Yudhoyo mengaku tiga kali menaikkan harga BBM. Namun, tiga kali pula pemerintah menurunkan harga BBM. "Saya yakin, bahwa setiap presiden dan pemerintah yang dipimpinnya, yang naikkan BBM itu pastilah bukan untuk sengsarakan rakyatnya," tegas Yudhoyono.
Seperti diberitakan sebelumnya, rapat paripurna DPR yang berlangsung Jumat (30/3/2012) hingga Sabtu dini hari menyetujui opsi penambahan ayat 6a dalam pasal 7 Undang-Undang No.22 Tahun 2011 tentang APBN 2012. Dengan demikian, pemerintah mendapat kewenangan menaikan atau menurunkan harga BBM di saat kondisi tertentu, yakni manakala ada perubahan 15 persen atau lebih rata-rata selama enam bulan terakhir terhadap ICP.
Dalam pasal itu disebutkan pula bahwa kewenangan pemerintah diberikan untuk menetapkan kebijakan pendukung sebagai respon dari penyesuaian harga BBM itu. "Sebenarnya kewenangan pemerintah seperti itu bukan luar biasa, karena otoritas atau kewenangan itu juga berlaku di banyak negara, dan berlaku di Indonesia sejak pemerintahan yang lalu," kata Yudhoyono.

Sumber: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai, pembahasan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, dipolitisasi. Segala sesuatunya, kata Yudhoyono, dikait-kaitkan dengan kepentingan politik, kepentingan Pemilihan Umum (Pemilu) 2014.
Hal tersebut diungkapkan Yudhoyono dalam jumpa pers seusai memimpit rapat kabinet di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/3/2012). Kondisi yang demikian, lanjut Yudhoyono, membuat pembahasan dan pemikiran terkait opsi ini, berjalan kurang objektif dan rasional. Padahal, menurutnya, pemeirintah mengajukan opsi kenaikan harga BBM semata-mata untuk menyelamatkan perekonomian nasional.
"Salah satunya yang perlu pemerintah lakukan adalah untuk bersama-sama DPR melakukan perubahan APBN 2012. Mengapa? Karena banyak hal yang sudah tidak sesuai lagi, misalnya harga minyak mentah, nilai tukar rupiah, takaran pertumbuhan, dan angka inflasi," ujar Yudhoyono.
Penyesuaian harga BBM bersubsidi, menurutnya, perlu dilakukan untuk mengatasi perubahan-perubahan tersebut. "Dan kalau tidak diubah, maka yang terjadi adalah sasaran yang telah kita tetapkan tidak dapat kita capai. Bisa terjadi defisit yang besar, melebihi ketentuan yang diharuskan undang-undang," ujar Yudhoyono.
Lagipula, bukan kali ini saja pemerintah menaikan haga BBM. Berdasarkan catatan sejak Indonesia merdeka, kata Presiden, pemerintah 38 kali menaikkan hharga BBM. "Di era reformasi, tujuh kali, termasuk di saat Presiden Gus Dur dan Megawati," katanya.
Di era pemerintahannya sendiri, Yudhoyo mengaku tiga kali menaikkan harga BBM. Namun, tiga kali pula pemerintah menurunkan harga BBM. "Saya yakin, bahwa setiap presiden dan pemerintah yang dipimpinnya, yang naikkan BBM itu pastilah bukan untuk sengsarakan rakyatnya," tegas Yudhoyono.
Seperti diberitakan sebelumnya, rapat paripurna DPR yang berlangsung Jumat (30/3/2012) hingga Sabtu dini hari menyetujui opsi penambahan ayat 6a dalam pasal 7 Undang-Undang No.22 Tahun 2011 tentang APBN 2012. Dengan demikian, pemerintah mendapat kewenangan menaikan atau menurunkan harga BBM di saat kondisi tertentu, yakni manakala ada perubahan 15 persen atau lebih rata-rata selama enam bulan terakhir terhadap ICP.
Dalam pasal itu disebutkan pula bahwa kewenangan pemerintah diberikan untuk menetapkan kebijakan pendukung sebagai respon dari penyesuaian harga BBM itu. "Sebenarnya kewenangan pemerintah seperti itu bukan luar biasa, karena otoritas atau kewenangan itu juga berlaku di banyak negara, dan berlaku di Indonesia sejak pemerintahan yang lalu," kata Yudhoyono.

Sumber:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai, pembahasan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, dipolitisasi. Segala sesuatunya, kata Yudhoyono, dikait-kaitkan dengan kepentingan politik, kepentingan Pemilihan Umum (Pemilu) 2014.Hal tersebut diungkapkan Yudhoyono dalam jumpa pers seusai memimpit rapat kabinet di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/3/2012). Kondisi yang demikian, lanjut Yudhoyono, membuat pembahasan dan pemikiran terkait opsi ini, berjalan kurang objektif dan rasional. Padahal, menurutnya, pemeirintah mengajukan opsi kenaikan harga BBM semata-mata untuk menyelamatkan perekonomian nasional."Salah satunya yang perlu pemerintah lakukan adalah untuk bersama-sama DPR melakukan perubahan APBN 2012. Mengapa? Karena banyak hal yang sudah tidak sesuai lagi, misalnya harga minyak mentah, nilai tukar rupiah, takaran pertumbuhan, dan angka inflasi," ujar Yudhoyono.Penyesuaian harga BBM bersubsidi, menurutnya, perlu dilakukan untuk mengatasi perubahan-perubahan tersebut. "Dan kalau tidak diubah, maka yang terjadi adalah sasaran yang telah kita tetapkan tidak dapat kita capai. Bisa terjadi defisit yang besar, melebihi ketentuan yang diharuskan undang-undang," ujar Yudhoyono.Lagipula, bukan kali ini saja pemerintah menaikan haga BBM. Berdasarkan catatan sejak Indonesia merdeka, kata Presiden, pemerintah 38 kali menaikkan hharga BBM. "Di era reformasi, tujuh kali, termasuk di saat Presiden Gus Dur dan Megawati," katanya.Di era pemerintahannya sendiri, Yudhoyo mengaku tiga kali menaikkan harga BBM. Namun, tiga kali pula pemerintah menurunkan harga BBM. "Saya yakin, bahwa setiap presiden dan pemerintah yang dipimpinnya, yang naikkan BBM itu pastilah bukan untuk sengsarakan rakyatnya," tegas Yudhoyono.Seperti diberitakan sebelumnya, rapat paripurna DPR yang berlangsung Jumat (30/3/2012) hingga Sabtu dini hari menyetujui opsi penambahan ayat 6a dalam pasal 7 Undang-Undang No.22 Tahun 2011 tentang APBN 2012. Dengan demikian, pemerintah mendapat kewenangan menaikan atau menurunkan harga BBM di saat kondisi tertentu, yakni manakala ada perubahan 15 persen atau lebih rata-rata selama enam bulan terakhir terhadap ICP.Dalam pasal itu disebutkan pula bahwa kewenangan pemerintah diberikan untuk menetapkan kebijakan pendukung sebagai respon dari penyesuaian harga BBM itu. "Sebenarnya kewenangan pemerintah seperti itu bukan luar biasa, karena otoritas atau kewenangan itu juga berlaku di banyak negara, dan berlaku di Indonesia sejak pemerintahan yang lalu," kata Yudhoyono.

Sumber: KOMPAS

TV DAN RADIO DIIGITAL

Ada salah satu perbedaan yang mencolok antara televisi dengan radio digital, yaitu : kalau televisi digital seluruhnya akan migrasi dari analog ke digital, sedangkan radio akan diberikan tambahan spektrum baru. Dengan demikian pesawat radio akan memiliki band MW, SW, FM dan Digital

Sistem Radio Digital yang digunakan di Indonesia

Dari tiga sistem siaran digital radio, yaitu: DRM (Digital Radio Mondiale), IBOC (In-Band On-Channel) dan DAB (Digital Audio Broadcast), Indonesia memilih DAB. Pemilihan ini tentu saja didasarkan pada beberapa pertimbangan. Di antaranya, DAB dipilih karena menggunakan spektrum frekuensi baru, yaitu di VHF. Sedangkan, DRM beroperasi di MW, dan IBOC di FM, yang keduanya menjadi hal yang sulit untuk diterapkan di Indonesia. MW dan SW juga memiliki jangkauan siaran yang luas, yang dapat menyalahi UU 32 mengenai penyiaran, dimana sebuah penyiaran swasta jangkauan siarnya dibatasi. Sementara itu, spektrum FM di kebanyakan kota sudah penuh sehingga migrasi tidak dimungkinkan. Dengan alasan tersebut, DAB dianggap pilihan yang tepat.
DAB pun secara teknologi memiliki beberapa keuntungan dibandingkan siaran analog FM. Siaran DAB dapat menggunakan Single Frequency Network sehingga dapat menghindari blank spot yang sering ditemukan pada siaran analog FM.
Dalam aplikasinya, keunggulan DAB lebih banyak dinikmati oleh stasiun radionya dibandingkan pendengarnya. Suara DAB memang tidak jauh beda dari analog FM, hanya saja dalam siaran DAB, selain suara yang stereo, dapat juga disiarkan teks dan grafis sederhana. Misalnya nama lagu, penyanyi atau pesan-pesan antar pendengar.
Kendala
Di Indonesia, VHF digunakan oleh TVRI. Karena itu, pengosongan VHF secara menyeluruh harus menunggu sampai TVRI seluruh Indonesia bermigrasi ke digital yang beroperasi di UHF. Menggunakan DAB yang bekerja pada VHF dengan bandwith 7 MHz per kanal dan dapat menampung 14 siaran radio dalam satu kanal, memang masih memungkinkan untuk dilakukan dengan menggunakan kanal-kanal VHF yang kebetulan tidak digunakan TVRI. Hal ini, akan menghambat dimulainya DAB secara serentak di Indonesia karena mungkin kanal yang dialokasikan untuk DAB di kota tertentu masih digunakan TVRI. Bila kosong diperlukan juga uji coba lapangan agar siaran DAB tidak mengganggu TVRI dan begitu pula sebaliknya.
Indonesia akan menggunakan 4 kanal VHF untuk siaran DAB. Dengan rencana pembagian, 1 kanal siaran radio publik (RRI), 1 kanal radio komunitas, dan 2 kanal radio swasta.
Siaran dan Receiver
Dalam siaran DAB, konsep penyelengaraan siaran mirip dengan DVB-T di televisi. Dimana, satu pemancar DAB dapat menyiarkan 14 siaran DAB, sehingga mengharuskan penggunaan multiplexer. Artinya, 14 stasiun radio harus mengirimkan siarannya ke lokasi multiplexer dan pemancar. Dengan kata lain, 14 siaran radio hanya menggunakan satu paket pemancar dan antena.

Receiver
Banyak negara yabg telah menggunakan DAB, seperti Australia, Singapura dan beberapa negara di Eropa Barat. Namun populasi dari receiver DAB masih rendah, dan ini mengakibatkan harga menjadi relatif tinggi dibanding receiver analog
Yang menjadi perhatian bagi industri penyiaran radio adalah bagaimana caranya, supaya populasi dari receiver dapat tumbuh secara cepat sehingga pendengar siaran radio digital semakin tinggi.
 Sumber:http://broadcast-stasion.blogspot.com/2010/05/radio-digital_01.html

PROMOSI KAMPUS (UNIFA)








Sejarah Singkat
Universitas Fajar (Unifa) adalah salah satu pergururan tinggi swasta di lingkungan Kopertis Wilayah Sulawesi yang berada di bawah Yayasan Pendidikan Fajar Ujung Pandang (salah satu unit dari kelompok Fajar Grup (HARIAN FAJAR-JAWA POS) dengan fokus utama pada usaha media cetak yang tersebar dan terbesat di Kawasan timur Indonesia).
Universitas Fajar diremikan pada tanggal 08-08-2008 dengan surat keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dengan nomor: 132/d/0/2008 yang berkedudukan di Makassar.



Kampus:
Jl. Racing Centre No. 101
Tlp. (0411) 447508-459064-459938.
Fax (0411) 459065
Email : univ.fajar@gmail.com
Makassar – 90231
Sulawesi Selatan – Indonesia


DAMPAK MENONTON TV BUAT ANAK-ABNAK

Pengaruh media terhadap anak makin besar, teknologi semakin canggih & intensitasnya semakin tinggi. Padahal orangtua tidak punya waktu yang cukup untuk memerhatikan, mendampingi & mengawasi anak. Anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton TV ketimbang melakukan hal lainnya.

Dalam seminggu anak menonton TV sekitar 170 jam. Apa yang mereka pelajari selama itu? Mereka akan belajar bahwa kekerasan itu menyelesaikan masalah. Mereka juga belajar untuk duduk di rumah dan menonton, bukannya bermain di luar dan berolahraga. Hal ini menjauhkan mereka dari pelajaran-pelajaran hidup yang penting, seperti bagaimana cara berinteraksi dengan teman sebaya, belajar cara berkompromi dan berbagi di dunia yang penuh dengan orang lain.

Faktanya:

  • Anak merupakan kelompok pemirsa yang paling rawan terhadap dampak negatif siaran TV.
  • Data th 2002 mengenai jumlah jam menonton TV pada anak di Indonesia adalah sekitar 30-35 jam / minggu atau 1.560-1.820 jam /  tahun . Angka ini jauh lebih besar dibanding jam belajar di sekolah dasar yang tidak sampai 1.000 jam/tahun.
  • Tidak semua acara TV aman untuk anak. Bahkan, “Kidia” mencatat bahwa pada 2004 acara untuk anak yang aman hanya sekira 15% saja. Oleh karena itu harus betul-betul diseleksi.
  • Saat ini jumlah acara TV untuk anak usia prasekolah dan sekolah dasar per minggu sekitar 80 judul ditayangkan dalam 300 kali penayangan selama 170 jam. Padahal dalam seminggu ada 24 jam x 7 = 168 jam! Jadi, selain sudah sangat berlebihan, acara untuk anak juga banyak yang tidak aman.
  • Acara TV bisa dikelompokkan dalam 3 kategori: Aman, Hati-hati, dan Tidak Aman untuk anak.
  • Acara yang ‘Aman’: tidak banyak mengandung adegan kekerasan, seks, dan mistis. Acara ini aman karena kekuatan ceritanya yang sederhana dan mudah dipahami. Anak-anak boleh menonton tanpa didampingi.
  • Acara yang ‘Hati-hati’: isi acara mengandung kekerasan, seks dan mistis namun tidak berlebihan. Tema cerita dan jalan cerita mungkin agak kurang cocok untuk anak usia SD sehingga harus didampingi ketika menonton.
  • Acara yang “Tidak Aman”: isi acara banyak mengandung adegan kekerasan, seks, dan mistis yang berlebihan dan terbuka. Daya tarik yang utama ada pada adegan-adegan tersebut. Sebaiknya anak-anak tidak menonton acara ini.

Kenapa Kita Harus Mengurangi Menonton TV?

- Berpengaruh terhadap perkembangan otak
Terhadap perkembangan otak anak usia 0-3 tahun dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun pemahaman. Juga, menghambat kemampuan anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan.

- Mendorong anak menjadi konsumtif
Anak-anak merupakan target pengiklan yang utama sehingga mendorong mereka menjadi konsumtif.

- Berpengaruh terhadap Sikap
Anak yang banyak menonton TV namun belum memiliki daya kritis yang tinggi, besar kemungkinan terpengaruh oleh apa yang ditampilkan di televisi. Mereka bisa jadi berpikir bahwa semua orang dalam kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama dengan orang di layar televisi. Hal ini akan mempengaruhi sikap mereka dan dapat terbawa hingga mereka dewasa.

- Mengurangi semangat belajar
Bahasa televisi simpel, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar.

- Membentuk pola pikir sederhana
Terlalu sering menonton TV dan tidak pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola pikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, kreativitas dan perkembangan kognitifnya.

- Mengurangi konsentrasi
Rentang waktu konsentrasi anak hanya sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke iklan, akan dapat membatasi daya konsentrasi anak.

- Mengurangi kreativitas
Dengan adanya TV, anak-anak jadi kurang bermain, mereka menjadi manusia-manusia yang individualistis dan sendiri. Setiap kali mereka merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan. Sehingga waktu liburan, seperti akhir pekan atau libur sekolah, biasanya kebanyakan diisi dengan menonton TV. Mereka seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif.

- Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan)
Kita biasanya tidak berolahraga dengan cukup karena kita biasa menggunakan waktu senggang untuk menonton TV, padahal TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung mempengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut.

Anak-anak yang tidak mematikan TV sehingga jadi kurang bergerak beresiko untuk tidak pernah bisa memenuhi potensi mereka secara penuh. Selain itu, duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan.

- Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga
Kebanyakan anak kita menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama bersama keluarga biasanya ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan TV. 40% keluarga menonton TV sambil menyantap makan malam, yang seharusnya menjadi ajang ’berbagi cerita’ antar anggota keluarga. Sehingga bila ada waktu dengan keluarga pun, kita menghabiskannya dengan mendiskusikan apa yang kita tonton di TV. Rata-rata, TV dalam rumah hidup selama 7 jam 40 menit. Yang lebih memprihatinkan adalah terkadang masing-masing anggota keluarga menonton acara yang berbeda di ruangan rumah yang berbeda.

- Matang secara seksual lebih cepat
Banyak sekali sekarang tontonan dengan adegan seksual ditayangkan pada waktu anak menonton TV sehingga anak mau tidak mau menyaksikan hal-hal yang tidak pantas baginya. Dengan gizi yang bagus dan rangsangan TV yang tidak pantas untuk usia anak, anak menjadi balig atau matang secara seksual lebih cepat dari seharusnya. Dan sayangnya, dengan rasa ingin tahu anak yang tinggi, mereka memiliki kecenderungan meniru dan mencoba melakukan apa yang mereka lihat. Akibatnya seperti yang sering kita lihat sekarang ini, anak menjadi pelaku dan sekaligus korban perilaku-perilaku seksual. Persaingan bisnis semakin ketat antar Media, sehingga mereka sering mengabaikan tanggung jawab sosial, moral & etika.

Jadi, Siapa yang Seharusnya Mengurangi Menonton TV?

Semua dan setiap orang. Karena akibat buruk yang diberikan oleh TV tidak terbatas oleh usia, tingkat pendidikan, status sosial, keturunan dan suku bangsa. Semua lapisan masyarakat dapat terpengaruh dampak buruk dari TV, orangtua, anak-anak, si kaya ataupun si miskin, si pintar dan si bodoh, mereka dari latar belakang apa saja, tetap terkena dampak yang sama. Seharusnya instansi pemerintah, instansi pendidikan, instansi agama, keluarga dan individu semua bersama-sama mendukung program ‘Hari Tanpa TV’ ini, untuk membangun bangsa yang lebih baik.

Pertimbangkan Hidup tanpa TV

Dengan banyaknya bukti betapa TV bisa memberikan beragam dampak buruk, banyak keluarga sekarang membuat rumah mereka bebas-TV. Sangat penting untuk anak mempunyai kesempatan mempelajari dan mengalami langsung pengalaman hidup sehingga mereka dapat mengembangkan keterampilan yang mereka butuhkan untuk sukses di masa yang akan datang. Kalau menurut Anda hidup tanpa TV itu masih terlalu sulit, maka perlahan batasi dan awasi dengan seksama tontonan anak Anda sepanjang tahun.

Mau melihat generasi anak yang lebih sehat? Keluarga yang lebih dekat? Masyarakat yang lebih madani? Matikan TV. Hal yang mungkin kecil tapi akan berdampak besar!

Bantu kami untuk menyebarkan bahaya TV kepada masyarakat, dengan meningkatkan kewaspadaan publik, membantu orang untuk menikmati hidup tanpa TV, membantu mereka melakukan aktivitas yang bebas-TV, dan menawarkan tips-tips sederhana tentang cara melakukannya, kita akan membantu jutaan anak untuk mematikan TV dan menyadari bahwa hidup tanpa TV itu lebih menyenangkan dan menenangkan.

Dengan mematikan TV, kita jadi punya waktu untuk keluarga, teman, dan untuk kita sendiri.

Apa Manfaat HARI TANPA TV?

Dengan TV dalam keadaan mati, kita jadi memiliki kesempatan untuk berpikir, membaca, berkreasi dan melakukan sesuatu. Untuk menjalin hubungan yang lebih menyenangkan dalam keluarga dan masyarakat. Mengurangi waktu menonton TV membuat kita mempunyai lebih banyak waktu untuk bermain di luar, berjalan-jalan atau melakukan olahraga yang kita senangi.






Sumber: ikatan dokter anak indonesia






 









               

TEORI MODEL KOMUNIKASI SHARRON

Model Shannon dan Weaver

Model ini membahas tentang masalah dalam mengirim pesan berdasarkan tingkat kecermatannya. Model ini mengandaikan sebuah sumber daya informasi (source information) yang menciptakan sebuah pesan (message) dan mengirimnya dengan suatu saluran (channel) kepada penerima (receiver) yang kemudian membuat ulang (recreate) pesan tersebut. Dengan kata lain, model inim mengasumsikan bahwa sumberdaya informasi menciptakan pesan dari seperangkat pesan yang tersedia. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi sinyal yang sesuai dengan saluran yang dipakai. Saluran adalah media yang mengirim tanda dari pemancar kepada penerima. Di dalam percakapan, sumber informasi adalah otak, pemancar adalah suara yang menciptakan tanda yang dipancarkan oleh udara. Penerima adalah mekanisme pendengaran yang kemudian merekonstruksi pesan dari tanda itu. Tujuannya adalah otak si penerima. Dan konsep penting dalam model ini adalah gangguan.

Model ini menganggap bahwa komunikasi adalah fenomena statis dan satu arah. Dan juga, model ini terkesan terlalu rumit.

Sumber: http://komunikasiwongsolo.blogspot.com/2009/10/model-shannon-dan-weaver.html

SATELIT KOMUNIKASI

Pesaatnya kebutuhan akan pelayanan akses informasi melalui jaringan internet pada saat ini memerlukan infrastruktur untuk menunjang kebutuhan tersebut. Satelit sudah banyak dimanfaatkan secara komersial mulai awal dekade tahun 70. Infrastruktur satelit merupakan salah satu yang dapat digunakan untuk pelayanan multimedia dengan kecepatan yang tinggi. Untuk menujang hal tersebut diperlukan peralatan satelit komunikasi yang dapat memenuhi kebutuhan pelayanan itu.
Karakteristik dan kinerja payload komunikasi merupakan parameter yang sangat penting. Saat ini karakteristik satelit yang ada belum optimum untuk mendukung sistem interaktif multimedia broadband. Untuk itu perlu analisa dan sintesa agar payload yang didisain sesuai dengan standarisasi DVB IP VSAT yang saat menjadi standart internet IP lewat satelit. Pada makalah ini akan dibahas karakteristik yang penting pada sistem payload komunikasi meliputi effisiensi penggunaan daya yang berhubungan dengan linearitas repeater dan penentuan daerah kerja dari penguat daya
Analisa link satelit dilakukan untuk menentukan karakteristik satelit yang dibutuhkan yang meliputi parameter NPR, EIRP,dan G/T serta terminal VSAT . Dari analisa ini direncanakan requirement payload untuk kebutuhan broadband multimedia.







1.2. Satelit sebagai Jaringan Multimedia
Jaringan multimedia interaktif menggunakan satelit mempunyai beberapa kelebihan yaitu:
  • Jangkauan cakupannya yang luas baik nasional, regional maupun global.
  • Pembangunan infrastrukturnya relatif cepat untuk daerah yang luas, dibanding teresterial.
  • Sangat baik untuk daerah yang kepadatan penduduknya jarang dan belum mempunyai infrastuktur telekomunikasi.
  • Komunikasi dapat dilakukan baik titik ke titik maupun dari satu titik ke banyak titik secara broadcasting, multicasting.
  • Sinyal penerus dan sinyal untuk interaksi dapat dilakukan secara tidak simetri.
  • Mampu mentransmisikan data dengan kecepatan yang tinggi.
Ada beberapa kendala dari pada jaringan lewat satelit dengan alternatif pemecahannya:
  • Biayanya dianggap sama untuk jarak yang jauh maupun dekat.
  • Waktu transmisi yang relatif besar dibanding teresterial
1.3. Multimedia Broadcast Interaktif
Untuk memenuhi kebutuhan itu ETSI (European Telecommunications Standard Institute) telah menerbitkan suatu standar untuk aplikasi Broadband Multimedia melalui satelit yaitu DVB-S (Digital Video Broadcasting Satellite) untuk kanal penerus (forward channel) dan untuk kanal permintaan (Return Channel ) melalui satelit yaitu DVB-RCS (Digital Video Broadcasting-Return Channel Satellite).
2 Sistem DVB Untuk Jaringan Multimedia
Selama sepuluh tahun terakhir ini satelit sudah banyak digunakan sebagai dasar untuk jaringan komunikasi data untuk bank, pusat penjualan, PSTN dan lain lain dengan menggunakan sistem VSAT (Very Small Aparture Terminal). Dan pada perkembangan terakhir adalah digunakannya satelit dengan daya yang tinggi untuk mendistribusikan vidio digital untuk sampai ke pelanggan dengan menggunakan metoda DVB-S. Dengan peralatan antena yang kecil dan peralatan penerima yang simple, pelanggan dapat menikmati siaran program langsung dari satelit dengan jumlah program yang banyak.
2.1. Sistem VSAT
Secara ekonomis sistem VSAT tradisional yang ada saat ini tidak dapat langsung diterima di rumah dikarenakan faktor harga terminal yang tinggi. Untuk VSAT dengan kecepatan 2 MBps masih dibutuhkan peralatan antena dan penguat daya yang besar juga peralatan baseband yang besar dan mahal. Dengan adanya sistem DVB-S ini, pelanggan dapat mendapatkan informasi dengan kecepatan tinggi secara broadcasting melalui saluran bersama dengan terminal yang kecil dan murah. Sedangkan untuk melakukan permintaan (request) dilakukan dengan saluran sendiri dangan kecepatan yang dapat diatur sesuai dengan kebutuhan pelanggan, sehingga sifat multimedia secara interaktif dapat terjadi. Untuk menerapkan sistem seperti ini ETSI sudah mempublikasikan standarisasi yaitu EN300 421, EN301 201, EN 301 192 untuk kanal penerus dan EN 301 790 untuk kanal permintaan .
Gambar 1 Konfigurasi Star pada VSAT
Konfigurasi VSAT yang banyak dipakai dan diterapkan dalam sistem multimedia adalah berbentuk Star. Dalam konfigurasi ini ada tiga komponen utama yaitu Stasiun Hub. Satelit dan Terminal VSAT. Dengan cakupan antena yang luas maka Hub akan mentransmisikan sinyal ke satelit dan satelit merelay dan mendistribusikannya dalam cakupan antena satelit yang kemudian diterima oleh terminal dimasing masing pelanggan. Terminal melakukan permintaan pelayanan dengan mentransmisikan sinyal ke satelit dan diteruskan oleh satelit ke Hub. Untuk itu di satelit setidaknya ada dua kanal transponder, satu untuk merelay sinyal forward dari Hub ke terminal dan satu transponder lagi untuk merelay sinyal return yang dikirim dari terminal ke Hub.
Dalam konfigurasi star ini, karakteristik satelit yang dipergunakan sangat berpengaruh terhadap kinerja sistem VSAT DVB. Makin baik karakteristik dari satelit terutama dari daya dan pengaruh derau maka akan makin murah dan simple di sisi terminal VSAT.
2.2. Satelit
Elemen yang ketiga dari fungsi jaringan yang berbasis satelit ini adalah satelit komunikasi. Kinerja yang utama dari pada sistem satelit untuk aplikasi ini adalah Receive G/T, EIRP dan Linieritas Penguat Daya. Besarnya nilai G/T dan EIRP akan sangat menentukan sekali besarnya ukuran terminal VSAT, yang pada akhirnya menentukan nilai ekonomisnya. Namun penambahan EIRP dan G/T akan menyebabkan harga satelit menjadi naik. Oleh karena itu penentuan karakteristik payload transponder merupakan salah satu kunci sukses agar sistem multimedia dapat berjalan dengan baik. Pada bagian selanjutnya kita akan membahas tentang kerakteristik dari pada payload transponder satelit yang merupakan inti dari pembahasan ini.
Sistem satelit yang banyak dipakai pada saat ini adalah satelit yang non regenerative yaitu hanya melakukan fungsi merelay tanpa ada pemrosesan sinyal baik itu modulasi dan demodulasi. Penggunaan sistem satelit regenaratif akan menyebabkan harga dari satelit itu akan naik dikarenakan teknologi yang dipergunakan untuk aplikasi di ruang angkasa belum banyak dipakai untuk mencapai nilai ekonomisnya.
Pada bagian selanjutnya kita akan banyak membahas karakteristik dari payload komunikasi agar kinerja link satelit yang dipakai dapat uptimum untuk mentrasmisikan sinyal yang mengandung aplikasi multimedia. Hal ini akan membantu operator untuk memilih satelit yang ada atau juga melakukan pertimbangan dalam mendisain sistem satelit yang baru untuk memenuhi kebutuhan aplikasi multimedia interaktif melalui satelit.
2.3. Standar DVB
2.3.1. Kanal Penerus
Untuk mentransmisikan sinyal DVB-S maka sinyal data pada physical layer akan dilakukan proses pengkodean menggunakan Reed Solomon dan Forward Error Correcting (FEC) yang dilanjutkan dengan proses modulasi QPSK. Setelah itu baru sinyal digeser frekuensinya ke frekuensi yang lebih tinggi untuk dikuatkan dan ditransmisikan melalui antena . Sinyal penerus ini yang bersifat broadcasting dibawa oleh satu sinyal pembawa ke kanal transponder.
Hub untuk menstrasmisikan sinyal ini akan mengunakan penguatan dan antena yang besar sehingga transponder dapat mencapai nilai EIRP yang diharapkan.
2.3.2 Laju data DVB-S
Parameter yang sangat berpengaruh terhadap quality of service dari jaringan adalah throughput data. Throughput dalam hal ini total bandwidth yang dipergunakan atau kecepatan data yang dihasilkan dari jaringan ini. Kecepatan data ini akan berpengaruh terhadap jumlah pelanggan yang dapat mengakses jaringan. Secara teoritis bila kita menggunakan 36 MHz Bandwidth transponder dengan menggunakan modulasi QPSK maka kecepatan data yang tesedia adalah 72 Mbps. Namun pada DVB-S ini bila menggunakan untuk 1 transponder 36 MHz hanya akan mencapai kecepatan maksimu 45.2 Mbps setelah RS Coding dan FEC 7/8 dengan modulasi QPSK.
2.3.3. Kanal Permintaan
Seperti pada Hub maka pada terminal sinyal yang akan dikirim ke Hub melalui satelit sebelum dikirim akan melalui proses pengkodean dan modulasi QPSK. Hanya saja sinyal yang dikirimkan oleh masing masing terminal hanya menggunakan band frekuensi yang terbatas. Sehingga satu transponder dengan lebar pita frekuensi 36 MHz dapat dibagi atas band frekuensi yang lebih kecil. Sehingga setiap transponder satelit akan dipenuhi oleh banyak sinyal pembawa.
Karena terminal umumnya kecil baik dari sisi penguatan dan antena maka di sisi hub yang akan menerima sinyal diperlukan karakteristik G/T yang baik agar sinyal yang kecil dari terminal mempunyai BER yang baik. Juga karena sinyal ini dalam jumlah banyak diterima oleh satelit maka transponder pada satelit dapat merelay dengan degradasi yang minimum pada saat penguatan.
2.3.4. MF-TDMA
Sinyal yang dikirim dari terminal untuk mengaksesnya mengunakan sistem MF-TDMA ( Multi Frequency – Time Division Multiplexing Access). Dimana setiap terminal mengirim burst dengan kecepatan maksimum 2 Mbps. Setiap terminal melakukan secara bergantian. Hub melakukan koordinasi kapan tiap tiap terminal melakukan pengiriman burst data.
MF-TDMA dibagi atas dua macam Fixed MF-TDMA dan Dynamic MF-TDMA. Fixed MF-TDMA adalah bandwidth dan waktu pengiriman dilakukan secara tetap tidak berubah ubah., seperti diperlihatkan pada gambar 2. Sedangkan pada dynamic lama pengiriman dan bandwidth nya berubah ubah
Gambar 2 Sistem MF TDMA
2.4. Kinerja Link Satelit
Gambar 3 memperlihatkan faktor faktor yang dapat mempengaruhi link satelit dari Hub ke terminal atau sebaliknya.
Gambar 3 Faktor Link Satelit
Pemilihan frekuensi akan berpengaruh terhadap kinerja jaringan VSAT DVB ini. Sistem satelit yang mengunakan transmisi sinyal frekuensi radio akan banyak mengalami gangguan. Semakin tinggi frekuensi sinyal yang dipakai maka akan semakin tinggi redaman karena curah hujan. Saat ini band frekuensi yang banyak dipakai untuk aplikasi broadcasting adalah S-band, C-Band dan Ku-Band. Untuk daerah seperti Indonesia dengan curah hujan yang tinggi penggunaan Ku-band akan sangat mengurangi availability link satelit yang diharapkan. Sedangkan untuk daerah daerah sub tropis dengan curah hujan yang rendah penggunaan Ku-Band akan sangat baik. Pemilihan frekuensi ini akan berpengaruh terhadap ukuran terminal yang akan dipakai oleh masing masing pelanggan.
3 Sistem Satelit Komunikasi
Sistem satelit dibagi atas dua kelompok besar yaitu wahana ruang angkasa (Spacecraft Bus) dan Payload Komunikasi. Spacecraft Bus merupakan wahana yang dipakai untuk membawa peralatan komunikasi agar misi sebagai satelit komunikasi dapat tercapai.
Spacecraft Bus terbagi atas bagian: subsistem struktur, subsistem sumber daya listrik (EPS), subsistem pengaturan sikap satelit (ADAC), subsistem propulsi, subsistem pengaturan temperatur, dan subsistem pemrosesan dan komputasi. Gambar 4 memperlihatkan bagian bagian sistem satelit
Gambar4 Sistem Satelit Komunikasi
Sedangkan Payload Komunikasi dibagi lagi atas subsistem komunikasi repeater, subsistem antena, subsistem telemetri traking command dan ranging (TTC&R)
3.1. Payload Komunikasi
Karakteristik dari pada payload komunikasi sangat menentukan terhadap besarnya wahana pembawa. Semakin besar daya yang dipakai oleh peralatan payload komunikasi maka akan semakin besar daya yang harus disediakan oleh bagian subsistem sumber daya listrik untuk mensuplai daya ke peralatan payload komunikasi.
Sebagian besar daya yang dipergunakan untuk sebuah satelit dipakai untuk memberikan catu daya pada peralatan payload komunikasi terutama pada bagian komponen aktif dari repeater yaitu penguat daya besar. Daya dalam jumlah besar yang harus disediakan diperoleh dari solar panel. Untuk ukuran solar panel dan bateri yang semakin besar maka diperlukan penunjang struktur, pengaturan temperatur, pengendalian sikap satelit dan pada akhirnya ukuran dan berat wahana ruang angkasa akan bertambah. Tentu saja biaya baik untuk pembuatan wahana maupun untuk peluncurannya akan bertambah mahal.
3.2. Konfigurasi Payload
Secara umum sebuah payload komunikasi dari suatu satelit non regeneratif dapat digambarkan pada gambar 5. Bagian-bagian payload komunikasi secara fungsi dibagi atas lima bagian yaitu:
Penerima dan Penggeser Frekuensi, berfungsi menerima sinyal dari antena dan menguatkan sinyal dengan penguat derau rendah dan melakukan pergeseran frekuensi.
Pembagian Kanal Transponder, sinyal yang yang keluar dari penggeser masih pita lebar kemudian dibagi atas bagian pita frekuensi yang lebih kecil dalam satu transponder dan melakukan pemindahan hubungan antara bagian cakupan antena.
Gambar 5 Konfigurasi Dasar Komunikasi Payload
Pengaturan Kanal dan Penguat Daya Besar, menguatkan daya sinyal oleh penguat daya besar dan melakukan pengaturan terhadap level daya yang akan ditransmisikan.
Penggabungan Kanal Transponder, sinyal yang telah mengalami penguatan pada tiap kanal transponder kemudian dikumpulkan lagi menjadi sinyal dengan pita frekuensi yang lebih lebar.
Antena Pengirim dan Penerima, sinyal yang pita frekuensi yang lebar kemudian di ubah menjadi gelombang radio dan di transmisikan. Perubahan ini juga berlaku sebaliknya pada bagian penerimaan.
3.3. Parameter
Hal yang menentukan dari kinerja dari suatu komunikasi satelit pada peralatan payload adalah karakteristiknya. Secara umum parameter utama yang menentukan karakteristik untuk mencapai kinerja yang diharapkan adalah sebagai berikut:
Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) merupakan total daya yang dipancarkan oleh suatu pemancar yang merupakan daya keluaran penguat dalam dBW ditambah penguatan antenna terhadap antena isotropic dalam dBi, dengan difinisi EIRP = Pt (dBW) + Gt (dBi)
G/T (figure of merit for receiving sensitivity). Adalah perbandingan penguatan sinyal suatu sistem penerima dibandingkan dengan temperatur noise sistem tersebut.
Saturated Flux Density (SFD) adalah rapat daya sinyal dalam dBW per m2 yang diterima suatu satelit agar cukup untuk mensaturasi penguatan daya besar pada EIRP maksimum
Respon Amplitudo pada Pita Frekuensi adalah response ampiltudo pada pita frekuensi kanal transponder. Umumnya ditentukan oleh filter pada Input Multiplexer dan Output Multiplexer. Semakin datar respon amplitudonya maka semakin baik agar sinyal tidak mengalami degradasi karena penguatan kanal yang berbeda beda.
Respon Amplitudo di Luar Kanal Transponder adalah response amplitudo diluar pita frekuensi transponser. Semakin besar redamannya maka semakin baik. Parameter ini akan berpengaruh terhadap interfrensi antara kanal transponder berdekatan.
Respon Group Delay merupakan response group delay pada pita frekuensi kanal trasnponder. Paremeter ini umumnya ditentukan dari karakteristik pada filter sebelum penguatan dan setelah penguatan.
Stabilitas Frekuensi adalah stabilitas frekuensi yang umumnya berubah karena pengaruh dari variasi temperatur.
Frekuensi Sinyal Palsu adalah sinyal sinyal palsu yang terjadi karena proses pergeseran frekuensi. Sinyal palsu ini bila terletak di pita frekuensi akan menyebabkan gangguan berupa derau. Bila level nya cukup besar akan menyebabkan kapasitas daya maksimum untuk penguatan daya sinyal akan berkurang..
Linieritas Penguat Daya. adalah pengaruh ketidak linieran penguat. Ketidak linieran ini terjadi pada daerah yang mendekati saturasi. Pengaruh ketidaklineran ini menghasilkan produk intermodulasi apa bila pada satu penguat daya ada lebih dari satu sinyal pembawa.
Pergeseran Fasa adalah pergeseran fasa yang terjadi pada repeater. Pergeseran ini umumnya terjadi pada penguat daya yang tidak linier. Semakin dekat ke daerah saturasi penguat daya pergeseran fasa semakin besar.
Parameter yang dikemukan diatas adalah parameter yang utama dari suatu sistem repeater, ada beberapa perameter lain yang tidak dibahas seperti: produk intermodulasi di pasif unit, derau pengirim yang masuk ke sistem penerima, respon amplitudo pada pita frekuensi yang lebar.
3.4. Karakteristik Penguat Daya
Penguat daya besar merupakan komponen yang sangat kritikal pada repeater. Besarnya penguat daya ini merupakan komponen utama untuk menghasilkan EIRP yang besar disamping penguatan antena. EIRP merupakan parameter utama yang berpengaruh terhadap kualitas link sistem satelit. EIRP ini juga yang menentukan besar kecilnya terminal yang ada di bumi agar sinyal yang dikirimkan dapat diterima. Pengaruh ini juga yang menentukan availibilitas link yang ditentukan oleh besarnya margin dari suatu link satelit
3.4.1. Efisiensi Penguat Daya
Sebagian besar daya yang dipakai pada suatu sistem satelit dipakai untuk mencatu penguat daya. Sehingga besar kecilnya suatu satelit banyak ditentukan dari besarnya daya yang dikonsumsi oleh penguat daya pada suatu satelit komunikasi.
Tidak semua daya listrik yang dikonsumsi oleh penguat menjadi daya RF, sebagian berubah menjadi panas. Hal ini pula yang merupakan efisiensi dari suatu penguat daya. Umumnya penguat yang dipakai pada repeater satelit adalah TWTA (Travelling Wave Tube Amplifier) atau SSPA (Solid State Power Amplifier). efisiensi yang ada berkisar 55 % sampai 60 %.
Daya listrik yang berubah menjadi panas harus dapat didisipasikan ke bagian lain yang lebih dingin agar temperatur dapat merata dan menjaga temperatur dari semua komponen satelit tetap pada daerah kerjanya.
3.4.2. Daerah Kerja Penguat Daya
Penguat daya mempunyai daerah kerja yang bergantung besarnya daya masukan. Daerah yang daya keluarannya konstan meskipun besarnya daya yang masuk bertambah disebut daerah limiter (tidak linier), daerah ini merupakan titik saturasi penguat daya. Pada titik saturasi daya keluaran sinyal RF merupakan titik yang maksimum, namun pada titik ini juga perbandingan penguatan antara sinyal masuk dan daya keluar merupakan nilai penguatan yang terendah.
Daerah dimana sinyal masuk mengalami penguatan daya sampai titik dimana penguatan antara sinyal masukan dan keluaran tetap disebut daerah linier. Bila daya masukan ditambah lagi sampai melewati daerah linier maka penguatan akan mulai berkurang, daerah ini disebut daerah kompresi. Pada titik ini sinyal yang dikuatkan akan mengalami degradasi kualitas karena pengaruh ketidaklinieran dari penguat.
Secara efisiensi untuk mendapatkan EIRP yang maksimum maka hendaknya daerah kerja dari pada suatu penguat adalah bekerja di saturasi. Tapi pada daerah ini terjadi degradasi sinyal yang sangat besar yang menyebabkan intermodulasi sinyal dan pergeseran fasa yang besar. Untuk itu daya masukan harus diturunkan sampai mencapai daerah yang optimum antara efisiensi yang tinggi dengan degradasi yang minimum.
Sebagai contoh bila suatu penguat daya besar daerah liniernya akan mulai bila keluaran dayanya berkurang sampai 10 dB dari titik saturasi (OBO-output backoff). Ini berarti daya yang dipakai hanya berkisar 1 % dari total daya yang disediakan, hal ini sangat tidak effisien. Untuk itu diperlukan metoda lain untuk meningkatkan linieritas suatu penguat.
3.4.3. Intermodulasi
Pada satelit repeater bila sejumlah sinyal pembawa f1, f2, f3 .. fN masuk pada penguat yang tidak linier, maka keluarannya tidak hanya N frekuensi saja tapi merupakan kombinasi dari N frekuensi. Sifat ini yang disebut produk intermodulasi. Maka akan keluar frekuensi yang merupakan hasil dari intermodulasi yang frekuensinya merupakan kombinasi dari frekuensi sinyal masukan yang dapat dinyatakan dengan:
FIM = m1f1 + m2f2 + ….. +mNfN (3.1)
Gambar 6 Produk Intermodulasi Pada Penguat Tak Liniear[8]
Dimana m1, m2 dan mN merupakan bilangan bulat positif atau negatif. Orde produk intermodulasi merupakan penjumlahan dari bilangan bulat:
M = [m1] + [m2] + …..+ [mN] (3.2)
Karena pada sistem satelit frekuensi tengah dari suatu kanal transponder jauh lebih besar dari pada lebar pita transponder, maka hanya produk intermodulasi orde yang ganjil saja yang jatuh pada daerah kerja frekuensi. Semakin besar orde maka dayanya semakin kecil. Secara praktis hanya orde ke 3 yang sangat diperhatikan, orde ke 5 sebagai referensi.. Gambar 3-4 memperlihatkan pengaruh ketidak linieran penguat yang me nghasilkan intermodulasi.
Apabila sinyal yang masuk merupakan sinyal yang mempunyai modulasi maka intermodulasi tidak berbentuk frekuensi tunggal, tapi banyak frekuensi dan dayanya menyebar. Produk intermodulasi yang dihasilkan dari sejumlah banyak sinyal sinyal pembawa dengan modulasi berjumlah N akan menghasilkan intermodulasi yang berbentuk derau putih. Perbandingan antara sinyal yang dihasilkan dengan derau yang dihasilkan dari penguat disebut rapat daya sinyal terhadap produk intermodulasi (C/No IM -carrier to intermodulation noise spectral density). Sehingga pada suatu kanal transponder makin banyak sinyal pembawa maka makin rendah (C/No)IM.
3.5. Transponder untuk sinyal DVB forward
Untuk mengurangi pengaruh intermodulasi karena ketidak linieran penguat pada pita frekuensi yang lebar, maka pada repeater satelit penguatan dilakukan dalam kanal pita frekuensi transponder yang lebih kecil. Umumnya setiap kanal transponder mempunyai lebar pita frekuensi 36 MHz untuk C-band dan 54MHz atau 72 MHz untuk Ku-band
3.5.1. Pengaruh Penguat Daya Tidak Linier Terhadap Sinyal dengan Modulasi Digital
Sinyal DVB-S merupakan sinyal penerus yang ditransmisikan stasiun hub adalah sinyal dengan pembawa tunggal pada satu kanal pita frekuensi transponder dengan modulasi QPSK. Sehingga hal ini akan mengurangi faktor intermodulasi karena ketidak linieran penguat
Namun demikian apabila sinyal QPSK mempunyai amplitudo yang bervariasi maka sinyal akan mengalami degradasi akibat ketidaklinieran penguat daya. Perbedaan amplitudo yang dimaksud adalah amplitudo dari pada sinyal pembawa mempunyai selubung yang tidak konstan. Sinyal DVB yang dipergunakan disini adalah sinyal dengan modulasi QPSK yang menggunakan modulasi fasa. Jadi bit 0 dan 1 dinyatakan dengan perbedaan fasa.
Apabila sinyal modulasi QPSK yang ditransmisikan benar benar ideal tanpa ada perubahan amplitudo terutama pada saat transisi fasa maka tidak akan terjadi degradasi pada sinyal tersebut. Degradasi hanya terjadi pada sinyal dengan modulasi PSK dimana pada saat perpindahan fasa amplitudo sinyal mengecil sehingga keseluruhan sinyal membentuk permukaan seperti pada modulasi amplitudo. Bila dilihat dari rapat daya sinyal pada pita frekuensi amplitudanya tidak konstan . Untuk itu juga response frekuensi pada setiap pita frekuensi kanal transponder haruslah serata mungkin untuk mengurangi faktor degradasi sinyal pada modulasi digital.
Namun secara praktis operasional, karena pada kenyataan transmisi sinyal dari stasiun hub, propagasi dan sampai ke sebelum penguat daya besar sulit menjaga amplitudo selebar pita frekuensi untuk benar benar konstan maka linearitas dari penguat daya sebaiknya tetap harus dipertimbangkan untuk menjaga kualitas yang sampai pada terminal VSAT.
3.5.2. Automatic Gain Control
Selain parameter diatas hal yang sangat berpengaruh terhadap kualitas dari pada sinyal DVB-S adalah kesetabilan link yang disebabkan redaman curah hujan. Apabila pada daerah stasiun hub sinyal dari stasiun bumi ditransmisikan terjadi hujan, maka hal ini akan menyebabkan flux density dBW/m2 yang diterima satelit akan menurun. Hal ini akan menyebabkan titik operasi dari pada penguat daya di repeater akan menurun, yang pada akhirnya EIRP yang ditansmisikan ke pelanggan akan menurun pula.
Untuk menjaga hal itu maka perlu dilakukan menjaga agar titik kerja dari penguat daya besar tidak berubah karena adanya redaman yang disebabkan pengaruh hujan. Untuk itu pada transponder perlu ditambahkan Automatic Gain Control (AGC), yang berfungsi untuk menjaga agar daerah kerja dari penguat daya besar tidak berubah-ubah.
Cara kerja suatu AGC adalah dengan mendeteksi level daya yang masuk pada penguat daya besar, bila levelnya turun maka AGC akan menambah penguatan dan apa bila daya berlebih maka AGC akan meredam daya sinyal. AGC ini juga akan menambah proteksi dari terjadinya overdriving (sinyal terlalu besar) yang dapat merusak transponder.
3.6. Tranponder untuk sinyal DVB-RCS
Sinyal yang berasal dari pengguna DVB-RCS merupakan sinyal pembawa banyak yang berbentuk MF-TDMA. Setiap sinyal pembawa mempunyai kecepatan 2 MBps , sehingga untuk satu kanal transponder C-band dengan lebar 36MHz akan digunakan sampai jumlah 23 sinyal pembawa.
Satu sinyal pembawa digunakan secara bergantian oleh terminal dengan menggunakan burst TDMA. Untuk memperkuat sinyal dengan jumlah pembawa yang banyak di transponder diperlukan penguat daya besar dengan linieritas yang baik. Untuk memperbaiki linieritas agar dapat tercapai efisiensi yang baik maka sebelum sinyal dikuatkan ditambahkan peralatan linearizer (pelinierisasi). Penambahan linearizer akan berdampak sangat besar pada efisiensi daya yang dipergunakan dan mengurangi degradasi sinyal karena pengaruh produk intermodulasi. Degradasi ini menyebabkan bit error rate (BER) akan membesar.
Selain itu pada masing masing kanal transponder yang ditambahkan peralatan pengontrolan kanal transponder (Channel Control Unit) yang ditujukan untuk membantu menentukan daerah kerja dari penguat daya besar, apabila terminal VSAT transmit pada ukuran EIRP yang terlalu besar atau terlalu kecil, sehingga dengan mengatur redaman yang di perintah dari stasiun pengendali dapat ditentukan SFD dari masing masing kanal transponder sesuai keperluan. Lebar dari pengaturan CCU bisa dari 20 sampai 30 dB. Karena pengaturan redaman dilakukan sebelum penguat daya dan setelah LNA maka perubahan redaman ditransponder mempunyai pengaruh yang kecil terhadap temperatur noise sistem satelit.
4. Analisa dan Perencanaan
4.1.Analisa Link Untuk Kanal Penerus
Analisa kinerja link satelit untuk kanal penerus pada sinyal penerus dengan menggunakan pembawa tunggal pada setiap transponder, menggunakan beberapa assumsi yaitu
  • Frekuensinya Extended C-Band dengan frekuensi uplink 6565 MHz dan frekuensi downlink 3540 MHz
  • Terminal VSAT menggunakan antena dengan ukuran 180 cm
  • Forward Error Correcting Code (FEC) ¾
  • Penerima pada terminal VSAT mempunyai Eb/No 6 dB
  • Temperatur sistem penerima pada terminal VSAT 30 K
  • Hub menggunakan antena ukuran 9 m dengan daya penguat 500 W
  • Satelit mempunyai G/T -2,3 dB
Dengan menggunakan asumsi pendekatan tersebut dan pada beberapa harga EIRP yang ada di satelit yang berbeda beda maka akan didapat C/N total yang dibandingkan dengan persyaratan Eb/No dari penerima DVB VSAT maka akan didapat margin yang berbeda beda. Pada analisa ini juga diperhitungkan gangguan karena redaman hujan di uplink 0,5 dB dan di downlink 0,25 dB. Juga diperhitungkan juga pengaruh terhadap kesalahan ponting dari antena baik di uplink maupun di arah downlink.
Tabel -1 Link Margin Satelit untuk kanal penerus
Tabel-1 memperlihatkan total perbandingan level daya sinyal terhadap derau untuk (C/N) untuk EIRP satelit yang berbeda beda. Hasil analisa ini menunjukan bahwa untuk minimum EIRP 37 dBW tersedia margin 2.72 dB dan akan semakin membesar dengan EIRP yang semakin besar.

4.2.Analisa Link Untuk Kanal Permintaan
Pada kanal permintaan analisa dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang sama seperti pada kanal penerus. Asumsi yang dipakai adalah sebagai berikut:
  • Frekuensinya Standard C-Band dengan frekuensi uplink 6165 MHz dan frekuensi downlink 3940 MHz
  • Terminal VSAT menggunakan antenna dengan ukuran 180 cm
  • Forward Error Correcting Code (FEC) ¾
  • Penerima pada terminal VSAT mempunyai Eb/No 6 dB
  • Temperatur sistem penerima pada Hub 15 K
  • Hub menggunakan antena ukuran 9 m
  • Satelit mempunyai G/T -2,11 dB
Tabel -2 Noise Power Ratio (NPR) Penguat Daya pada frekuensi C-Band
Berdasarkan asumsi perameter diatas maka dapat dianalisa link satelit untuk beberapa variabel yang ada di satelit berdasarkan daerah operasi penguat daya besar yang ada di repeater. Analisa juga dilakukan dengan membandingkan kinerja bila pada penguat daya besar dipergunakan pelinearisasi maupun tanpa pelinerisasi. Karakteristik pelinearisasi dengan memperhitungan perbandingan daya sinyal terhadap derau hasil intermodulasi (NPR) untuk pembawa dalam jumlah banyak.
Karakteristik NPR dari suatu penguat dipakai berdasarkan tipikal pelinearisasi yang didapat dari Alcatel Space [11] untuk daerah operasi yang berbeda seperti pada Tabel -2.
Dengan menggunakan data NPR diatas maka akan didapat C/N untuk EIRP satelit yang berbeda beda. Hasil nya didapat margin yang diperlihatkan pada tabel 4-3.
Dari analisa link satelit untuk kanal permintaan ini bila data dari tabel -3 diperlihatkan dalam bentuk grafik maka yang terlihat pada gambar 7
Dari grafik diatas terlihat bahwa margin akan semakin besar bila daerah kerja menjauh dari daerah saturasi yang kemudian margin akan mulai mengecil bila derah kerja dibawah SAT-7.
Dari analisa ini terlihat jelas bahwa margin akan mempunyai nilai yang mendekati sama pada daerah kerja SAT-5 untuk penguat daya besar yang mengunakan pelinearisasi (L-TWTA) pada daya EIRP 36 dBW dengan penguat daya tanpa pelinearisasi (TWTA) pada EIRP 41 dBW.
Tabel -3 Margin untuk Kanal Permintaan untuk EIRP dan daerah kerja yang berbeda
Gambar 7 Margin untuk Kanal Permintaan untuk EIRP dan daerah kerja yang berbeda
Dengan nilai EIRP ini bila menggunakan antena dengan penguatan 25.5 dBi maka daya yang diperlukan untuk L-TWTA adalah 30 watt, dan bila hanya TWA maka daya yang dibutuhkan adalah 70 Watt. Bila daya ini diperhitungkan dengan efisiensi TWTA dan EPC (Electronic Power Conditioner) maka akan didapat total penggunaan daya seperti yang terlihat pada Tabel 4-4.
Tabel -4 Perbandingan pengunaan daya
Dari Tabel-4 diatas maka terlihat penggunaan daya total bila tanpa pelinierisasi dibutuhkan daya yang besarnya 133% lebih tinggi.
Pada analisa dengan parameter NPR penggunaan pita frekuensi dapat dioptimalkan untuk seluruh pita frekuensi seleber 36 MHz, dengan kecepatan data sebesar 2 Mbps akan dapat dipakai untuk 23 sinyal pembawa.
4.3. Perencanaan Payload Komunikasi Untuk Multimedia
Dari analisa yang diatas maka perencanaan untuk menentukan karakteristik payload komunikasi untuk aplikasi multimedia. Perencanaan ini dengan mempertimbangkan karakteristik payload yang sudah ada terutama yang menjangkau wilayah Indonesia yaitu satelit Palapa C2 dan Telkom-1. Konfigurasi dan karakteristiknya adalah sebagai berikut.
4.3.1 Perencanaan Kanal Penerus
  • Tranponder untuk kanal penerus digunakan frekuensi Extended C-band dan untuk kanal permintaan menggunakan frekuensi standard C-Band
  • Maksimum EIRP untuk kanal penerus adalah 41 dBW
  • G/T untuk Kanal penerus adalah –2.3 dB/K
  • Menggunakan Automatic Gain Contol (AGC) di satelit dengan jangkauan minimal 20 dB, dengan nilai nominal SFD –95 dBW/m2
4.3.2 Perencanaan Kanal Permintaan
  • Transponder untuk kanal permintaan digunakan frekuensi standard C-Band
  • Minimal EIRP untuk kanal penerus adalah 36 dBW
  • G/T untuk Kanal penerus adalah –2.11 dB/K
  • Menggunakan pengaturan penguatan di repeater (CCU-Channel Control Unit ) dengan jangkauan 20 dB, dengan nilai SFD –95 dBW/m2 pada redaman 0 dB
  • Produk Intermodulasi dinyatakan dengan parameter NPR dengan nilai yang dinyatakan pada Tabel -2
5. Kesimpulan
  1. Pemilihan satelit dan karakteristik payload sangat berpengaruh besar terhadap kinerja sistem VSAT DVB IP ini, terutama karakteristik G/T, EIRP dan linierisasi penguat daya besar
  2. Penambahan linearizer didepan penguat daya besar sangat berpengaruh pada efisiensi penggunaan daya yang ada pada sistem satelit dan perbaikan kinerja link satelit. Sebagai perbandingan, link satelit dengan kinerja yang sama akan dicapai pada TWTA dengan EIRP 41 dBW dan Linearizer-TWTA dengan EIRP 36 dBW pada daerah operasi keluaran 5 dB dari titik saturasi. Pengunaan linearizer ini akan menghemat daya di satelit sebesar 57%.
  3. Analisa kinerja link satelit pada pembawa sinyal banyak untuk kanal permintaan sebaiknya digunakan parameter NPR agar mendekati karakteristik penguat daya yang sebenarnya
  4. Untuk menambah marjin link satelit pada kanal permintaan, kinerja G/T satelit dapat diperbaiki dengan menggunakan antena spot beam pada bagian penerimaan satelit
  5. Untuk menjaga stabilitas kanal penerus terutama karena gangguan redaman hujan perlu ditambahkan AGC pada satelit sebelum penguat daya besar pada repeater
  6. Untuk mempermudah menentukan daerah kerja penguat daya besar di repeater perlu ditambahkan pengatur kanal (CCU-Channel Control Unit) dibagian sebelum penguat daya besar.



        Sumber: http://www.elektroindonesia.com/elektro/assi_jan03.html